Bersekolah Bagaikan Berjuang Melawan Maut

Liputan6.com, Lebak: Pemandangan di Kabupaten Lebak, Banten, sungguh ironis. Anak-anak sekolah terpkasa meniti jembatan gantung yang rusak hanya dengan berpegangan tangan. Dan, di bawahnya arus deras Sungai Ciberang bisa mengancam jiwa mereka kapan saja. Bagi mereka, bersekolah bagaikan berjuang melawan maut.



Pantauan tim SCTV, Kamis (19/1), para siswa yang hanya mengandalkan kedua belah tangan mereka memegang besi jembatan yang rusak. Mereka juga harus meniti bilah-bilah kayu yang rusak. Diduga jembatan sepanjang 100 meter ini putus akibat banjir besar beberapa waktu lalu yang membuat volume air Sungai Ciberang ini meluap.

Warga berharap jembatan segera diperbaiki. Ia dan sebagian orang tua khawatir keselamatan anak-anak mereka. Untuk mengambil rute lain mereka tak sanggup karena harus mengeluarkan uang. "Kalau ke sekolah lewat jalan lain harus keluar ongkos, akhirnya mereka harus lewat jembatan gantung walaupun bahaya," ujar Maemunah.

Namun hingga kini belum ada tanda-tanda jembatan diperbaiki, meski nyawa bocah tak berdosa menjadi taruhanya. Jembatan rusak juga membuat warga yang sakit terpaksa dirawat di rumah. Sejak jembatan putus, warga terisolir. Mereka harus melintasi hutan sejauh lima kilometer dengan kondisi becek jika ingin ke kota terdekat

Comments